Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari sebagai komando tertinggi Laskar Hizbullah menginstruksikan Laskar Hizbullah dari berbagai penjuru memasuki Surabaya untuk bersiap menghadapi segala kemungkinan dengan satu sikap akhir, menolak menyerah. KH Abbas Buntet Cirebon diperintahkan memimpin langsung komando pertempuran. Para komandan resimen yang turut membantu Kiai Abbas antara lain Kiai Wahab (KH. Abd. Wahab Hasbullah), Bung Tomo (Sutomo), Cak Roeslan (Roeslan Abdulgani), Cak Mansur (KH. Mas Mansur), dan Cak Arnowo (Doel Arnowo).Bung Tomo melalui pidatonya yang disiarkan radio membakar semangat para pejuang dengan pekik takbirnya untuk bersiap syahid di jalan Allah SWT.

Ikhlas

Syarat paling utama suatu amalan diterima di sisi Allah adalah ikhlas. Tanpanya, amalan seorang muslim akan sia-sia bak debu tertiup angin. Setan tidak pernah lelah dalam usahanya memalingkan manusia agar menjauhkan mereka dari keikhlasan.

Salah satunya ialah melalui pintu riya’ yang banyak tidak disadari kaum muslimin. Dengan dalih berbagi inspirasi kepada sesama, seseorang dengan mudahnya terjebak dalam riya’.

Memasang foto profil sedang membaca Al-Quran, update status tentang amalan keseharian pribadi, sampai kepada hal-hal seharusnya tidak disebarkan ke publik, tanpa disadari membuat amalan seorang muslim menjadi sia-sia belaka.

Ini bukan sedang mencela salah satu pihak, namun ini adalah PR bagi kaum muslimin yang aktif di media sosial, agar setiap amalan yang telah dilakukannya tidak sia-sia atau parahnya justru berujung dosa.

Biarlah ibadah yang kita laksanakan setiap waktu menjadi catatan amalan pribadi kita. Evaluasi diri bukanlah memajangnya di hadapan publik untuk kemudian mendapat komentar-komentar yang beragam dari orang lain.

Tidakkah cukup curahan hati kita kepada Yang Maha Kuasa serta curahan hati kita kepada orang-orang yang kita sayangi? Relakah kita, apabila kita telah berlelah-lelah beribadah, tetapi tidak dinilai ibadah oleh Allah, bahkan dicap dosa oleh-Nya? Tutuplah kebaikan diri kita, sebagaimana kita menutup aib-aib kita di hadapan orang lain.

Hal ini adalah yang dikhawatirkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berabad-abad silam. Beliau bersabda, “Sesuatu yang aku khawatirkan menimpa kalian adalah perbuatan syirik asghar. Ketika beliau ditanya tentang maksudnya, beliau menjawab: ‘(contohnya) adalah riya’.” (HR. Ahmad).

Gunakanlah media sosial yang ada dengan sebaik-baiknya. Senantiasa perbaiki niat agar jangan terjerumus ke dalam jurang riya’, yang dapat menghapus amalan-amalan yang telah kita lakukan.

Niatkan hati kita aktif di media sosial untuk memberi manfaat kepada yang lain, dengan saling menasihati dalam kebenaran, kesabaran, dan kasih sayang. Bukan dengan menghina kekurangan ibadah orang lain, atau memamerkan ibadah-ibadah kita. Semoga kita terbebas dari sifat riya’ dan munafik.

 

 

Jika Bapak/Ibu/Saudara berkenan berinfaq dan/atau berwaqaf, dengan hormat disilakan mengirimkan ke:

No. Rek:
2057086906

No. Rek: 2520547251

No. Rek:
1000701001473532

No. Rek:
1000701001192534

No. Rek:
3647005480