"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183)

Alhamdulillah

Susah memang pada awalnya, dihina kok alhamdulillah? Yang jelas, tak perlu merasa terhina saat dihina orang lain, karena orang yang mudah menghina orang lain adalah bukan orang yang mulia. Jangan-jangan lebih hina dari orang yang sedang dihina.

Lagi pula, Tuhan dalam firmanNya mengatakan ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokan) lebih baik dari mereka yang mengolok-olokan” (QS Al Hujurot, 49:11).

Jelas sekali kan firmanNya itu. Jadi mengapa perlu bersedih atau sakit hati bila dihina orang lain ? EGP aja, Emangnya Gue Pikirin! Lagi pula hinaan itu ibarat kawah candradimuka, hati itu digodok sedemikian rupa, agar tak mudah goyah, tabah dan sabar. Jadilah ilalang yang diinjak-injak orang masih tetap hidup atau jadilah seperti baja yang makin di tempa, makin di palu makin kuat.

Namun bila dihadapi dengan hati yang jernih, saat di hina, justru “alhamdulillah” karena saat itulah kita dapat mengetahui kualitas akhlak orang lain, saat itulah kita dapat mengetahui siapa sesungguhnya orang yang sedang menghina itu.

Dan jangan lupa, orang yang suka sekali menghina orang lain, sebenarnya sedang menghina dirinya sendiri, satu telunjuk dia arahkan pada orang lain, ke empat jarinya yang lain sedang mengarah pada dirinya sendiri.

 

 

Jika Bapak/Ibu/Saudara berkenan berinfaq dan/atau berwaqaf, dengan hormat disilakan mengirimkan ke:

No. Rek:
2057086906

No. Rek: 2520547251

No. Rek:
1000701001473532

No. Rek:
1000701001192534

No. Rek:
3647005480